Memasyarakatkan Budaya Adat melalui Festival Foho Rai

DINAS KOMINFO KAB. BELU – Minggu (10/11), Dalam rangka melestarikan budaya tradisional serta meningkatkan kerja sama ekonomi, sosial budaya dan pendidikan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu menyelenggarakan Festival Foho Rai 2019, bertempat di Desa Sadi, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu.

Gambar mungkin berisi: 8 orang, orang tersenyum, orang duduk dan luar ruangan

Festival ini menampilkan beberapa budaya etnis Kemak, seperti Tebe Bot, Ha’ha Luya, Pantun, Likurai dan Tei kemak yang didukung oleh Platform Indosiana inisiasi dari Dirjen Kemendikbud RI. Festival yang mengusung tema “ Belu Panggil Pulang” ini sejalan dengan Platform Indonesiana yang menggagas beragam budaya diantara masyarakat. Kekhasan budaya yang hidup dalam diri kaum muda ini tentunya akan sangat membantu untuk terus memelihara dan mengembangkan budaya lokal.

Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang berdiri dan teks

Perwakilan Platform Indonesiana pada Kemendikbud RI – Anung Karyadi mengatakan festival adat seperti ini sangat penting untuk mengedepankan budaya – budaya lokal yang ada di masyarakat, sehingga masyarakat mampu melestarikan dan mengembangkan kembali kebudayaannya, sekaligus sebagai event untuk belajar bersama antara pemerintah pusat dan daerah untuk membangun kembali tradisi budaya yang telah luntur.

Gambar mungkin berisi: 7 orang, orang duduk, tabel dan luar ruangan

“ Di Kabupaten Belu, kegiatan semacam ini sudah kami lakukan di dua tempat yakni di Desa Sadi dan Berkase. Festival ini dilakukan sudah dua tahun. Kami sudah memfasilitasi sekitar 30 daerah sampai ke tingkat desa. Ada yang sifatnya Provinsi seperti Sumatera Barat ( 7 kota), Jawa Timur ( 5 kota) dengan harapan agar masyarakat benar – benar bisa tumbuh dan menghidupkan kembali tradisi adat dari para leluhur yang sudah mulai ditinggalkan,” ungkapnya.Gambar mungkin berisi: 2 orang, orang berdiri

Pada kesempatan yang sama, Pj. Kepala Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu – Hendricus A. Andrada Lan, S.Sos mengungkapkan kegiatan Festival kali ini merupakan hari ketiga setelah diadakan di Kampung Adat Berkase, karena itu Pemerintah Kabupaten Belu terus mendukung dan menyambut baik event ini sebagai bentuk pencerahan budaya kepada masyarakat.Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, langit dan luar ruangan

Menurutnya Pj Kabid, kegiatan Foho Rai dari tahun ketahun semakin baik. Beberapa budaya, yang dibawakan tentunya untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat, khususnya etnis kemak. Ke depan, event – event seperti ini harus menjadi kegiatan rutin sehingga generasi muda tidak akan kehilangan jati diri.Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, langit, luar ruangan dan alam

“ Acara seperti ini terus dilakukan untuk mengangkat kembali akar budaya sebagai jati diri dan identitas kultur masyarakat setempat terkait tradisi menghargai leluhur agar selalu diwarisi turun – temurun,” tandasnya.

Usai kegiatan, Perwakilan Platform Indonesiana bersama rombongan berkesempatan melihat dari dekat pameran produk berupa tenun khas Kemak dan kuliner di stand – stand yang telah disediakan.

Foto/berita: Frans Leki & Sipri Luma

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: