Wisata Budaya di Matabesi

DINAS KOMINFO KAB. BELU – Selasa(12/11), Berbagai rangkaian Kegiatan telah dilakukan oleh Komunitas Foho Rai dalam Platform Indonesiana yakni dengan menggelar Festival Foho Rai 2019 di Kabupaten Belu. Diantaranya pada tanggal 8 – 9 November 2019, bertempat di Kampung Adat Uma Metan Lidak Dusun Berkase, Desa Tukuneno, pada tanggal 10 November 2019 kegiatan dilakukan di Kampung Adat Sadi dengan Upacara Ritual Haa Luha, dan pada tanggal 11 November dilakukan Peresmian Museum Foho Rai dan dilanjutkan dengan Penyerahan Piagam Penghargaan Kepada 3 Orang Budayawan Asal Kabupaten Belu.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur – Wayan Darmawan mengatakan Festival Foho Rai yang di lakukan dirumah adat Matabesi ini merupakan salah satu event budaya yang akan memperkuat, terutama bagaimana kita mengembangkan SDM melalui nilai – nilai luhur yang diwariskan oleh masing -masing suku, terkait dengan festival yang dilakukan juga sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten Kota terutama Kabupaten Belu untuk mendorong pariwisata sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi dan aspek – aspek kekuatan budaya yang menjadi kunci utama untuk mempercepat dan menguatkan pariwisata berbasis masyarakat.

Selain itu Wayan Darmawan juga menambahkan atas dasar tersebut kita mendorong seluruh komunitas adat yang ada, untuk lebih kuat lagi akan sejalan dengan ditetapkannya destinasi budaya sebagai kekuatan pariwisata.

“ Sebagaimana event yang dilakukan komunitas Matabesi dimana mereka menggembangkan dan menguatkan rumah adatnya, diharapkan kedepan berkembang menjadi suatu destinasi yang ada di Atambua. Kita berharap sebagaimana kebijakan yang ditetapkan Pemerintah Provinsi sesuai RPJMD tahun 2018 diharapkan destinasi yang ada jangan mencampurkan antar interaksi yang modern dengan adat, dan akan dibagi 3 Area yakni Area terdepan adalah area bisnis, Area kedua yakni area rumah adat dengan mengunakan pakaian adat, dan Area ketiga sebagai pengembangan rantai wisata sehingga kedepan bisa tampil lebih bagus lagi.

” Saya berharap kampung Matabesi menjadi kampung gerakan budaya bersih atau sebagai kampung percontohan”, harap wayan.

Pada tempat yang sama, salah satu Perwakilan Komunitas Foho Rai Kurator Nulif Manajemen Komunitas – Rm. Fransiskus Delfi Abanit Asa mengatakan Museum ini muncul dari inisiatif dan kebetulan kita diskusikan bersama untuk membuat sesuatu ketika usai sekolah.

“ Dan satu hal yang menarik adalah museum merupakan suatu wadah yang menarik bagi generasi mendatang, dengan cerita panjang tentang cultur, pendidikan berkarakter, dan ini menjadi satu alasan meskipun dengan keterbatasan yang dimiliki, koleksinya yakni dalam bentuk karya seni, totem-totem atau ukiran kekayaan Raimanuk, koleksi budayawan dan seniman dari Sadi yaitu hasil karya atau hasil galian fosil gajah di Sadi, dan masih banyak lagi. Saya berharap perhatian masyarakat Belu pada umumnya sangat penting untuk berkelanjutan, mengapa kita memilih matabesi dan kita bukan pilih kasih, karena ini merupakan tempat menarik yang ada dipinggiran kota, namun masih tetap menjaga perhadapan rumah cultur dan ekosistem budaya yang dibangun,” ujar Romo Fransiskus.

Berita/Foto: Asih Mukti, Jhon Dasilva, Okto Mali

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: