Museum Foho Rai, Museum Budaya Pertama di Kabupaten Belu

DINAS KOMINFO KAB. BELU—Selasa(12/11), Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur – Wayan Darmawan mengresmikan Museum Fohorai Belu, yang ditandai dengan pengguntingan pita, berlangsung di Kampung Adat Matabesi, Kelurahan Umanen, Kecamatan Atambua Barat.

Museum Foho Rai merupakan sebuah museum rintisan sekelompok anak muda milineal pecinta dan penggembangan budaya di Kabupaten Belu yang tergabung dalam satu wadah yang bernama Komunitas Foho Rai. Museum ini menjadi sebuah inisiatif Komunitas Foho Rai yang merupakan pecinta seni dan budaya yang berkeinginan kuat untuk mengoleksi, mengumpulkan dan memamerkan, serta melestarikan kekayaan budaya yang ada di Kabupaten Belu.

Pengresmian Museum Komunitas Foho Rai Belu ini dilakukan untuk memperkenalkan kepada dunia dan kepada generasi penerus kita tentang berbagai macam barang peninggalan bersejarah. Acara ini dihadiri oleh Perwakilan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan RI, Koordinator Pusat Indonesiana Kementerian Kebudayaan RI, Kepala Museum Nasional Kemendikbud Jakarta, Pejabat Perwakilan Gubernur NTT – Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTT, Plt Kadis Pariwisata Kabupaten Belu yang juga Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Belu, Indonesiana, Asosiasi Museum Indonesia (AMI), Pimpinan Beacukai, Ketua Dekranasda Kabupaten Belu, Komunitas Pecinta Sejarah Timor dan masyarakat yang ada di kampung Adat Matabesi.

Dalam sambutan Gubernur Nusa Tenggara Timur yang dibacakan oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Timur – Wayan Darmawan memberikan apresiasi atas apa yang dilakukan Komunitas Foho Rai ini untuk membangun sebuah museum budaya dan ini merupakan museum budaya pertama yang ada di Kabupaten Belu, dan masih dalam semangat Hari Pahlawan ke-74, untuk itu biarlah kita menjadi pahlawan – pahlawan masa kini yang terus berjuang untuk membangun bangsa dan negara.

Kepala Museum Nasional Kemendikbud Jakarta – Siswanto mengatakan dengan diresmikan Museum Foho Rai ini, kami dari Museum Nasional Jakarta sangat mengapresiasi berdirinya Museum Foho Rai ini, tidak hanya Pemerintah sekarang seluruh elemen masyarakat, adat, serta komunitas–komunitas yang sudah bersatu padu untuk mendirikan museum, supaya lebih berkembang.

“ Cara perolehan koleksi-koleksinya juga unik langsung masyarakat menyumbangkan, jadi tidak ada paksaan dari siapapun dan semua perolehan koleksi didapatkan atas kesadaran masyarakat untuk melestarikan, dan yang terpenting agar adat dan budaya kita tetap terjaga dan tidak musnah ditelan waktu, sehingga dapat dikenal oleh generasi-generasi kita yang akan datang,” tandasnya.

Plt Kadis Pariwisata Kabupaten Belu – Johanes Andes Prihatin, SE., M.Si mengatakan kami dari Pemerintah Kabupaten Belu sangat mengapresiasi terhadap aktivitas dan kepedulian komunitas untuk membangun, memperhatikan dan memelihara akar budaya, bahkan sampai saat ini keasliannya masih tetap terjaga. Sebagai salah satu tugas pokok Dinas Pariwisata ada 3 yakni usaha mendatangkan orang kesuatu tempat, menahan orang selama mungkin dan pulang membawa sesuatu dari tempat yang dikunjungi.

“ Tugas kami dari Dinas Pariwisata dengan dukungan pemerintah Provinsi dalam hal ini dinas pariwisata membantu menghadirkan wisatawan sebanyak mungkin di kabupaten Belu dengan daya tarik destinasi budaya kampung adat matabesi,” ujarnya.

Berita/Foto: Asih Mukti, Jhon Dasilva & Okto Mali

Tinggalkan komentar

%d blogger menyukai ini: